Pages

Kamis, 28 Maret 2013

TNI Pamerkan Kebudayaan Indonesia di Lebanon


Citizen6, Lebanon- Penampilan tarian dan musik kebudayaan Indonesia, seperti Tari Pendet, Reog, dan Angklung yang dipamerkan oleh prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-G/UNIFIL atau Indonesian Battalyon (Indobatt) memukau ratusan penonton yang hadir pada acara Country Presentation di Lebanon Selatan, Senin malam (25/3/2013). Pagelaran seni dan kebudayaan dari masing-masing Kontingen yang berada dibawah Sektor Timur, sudah menjadi acara rutin yang digelar oleh UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) setiap tahunnya. Pada acara Country Presentation, Indonesia melalui Satgas Indobatt Konga XXIII-G/UNIFIL yang dikendalikan oleh Mayor Inf Lucky Avianto selaku Komandan Satgas menyajikan beberapa seni tari dan alat musik Angklung.  Pagelaran kebudayaan Indonesia dihadiri masyarakat sipil setempat serta para pejabat tinggi militer Sektor Timur, antara lain Komandan Sektor Timur Brigjen Teodoros Alonso dan Wakil Komandan Sektor Timur Kolonel Inf Rizerius, S. HS. Mereka membaur berdiri bersama penonton lain hingga acara selesai. Satgas Indobatt menyajikan Tari Pendet asal Bali yang dibawakan oleh Sertu Dessi sebagai pengiring kedatangan Komandan Sektor Timur Brigjen Teodoros Alonso beserta para pejabat teras lainnya menuju tempat duduk yang sudah disiapkan. Acara dibuka oleh Wakil Komandan Sektor Timur Kolonel Inf Rizerius, E. HS yang mewakili dari Indonesia. 
Selanjutnya pemaparan tentang Indonesia dan kekayaan budayanya yang disampaikan oleh Lettu Inf Dian Desstyawan yang sehari-hari menjabat sebagai Perwira LO (Liaison Officer) di Sektor Timur. Dalam paparannya antara lain dijelaskan tentang letak geografis Indonesia, dasar negara dan lagu kebangsaan, serta kekayaan budaya Indonesia baik itu Kesenian Tari, Kekayaan Batik Indonesia, Songket, Alat Musik Tradisional serta Kekayaan Alam dan Pariwisata. Tidak lupa pula dijelaskan secara singkat tentang sejarah terbentuknya TNI hingga saat ini, pengenalan produksi alutsista yang di produksi oleh putra-putri Indonesia sekaligus juga dimanfaatkan sebagai ajang promosi oleh Kontingen Garuda.
Pada puncak acara, secara berturut-turut prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt menghibur para pengunjung yang hadir dengan menampilkan sajian Tari Wira Pertiwi yang dimainkan oleh Serka Basriani, dilanjutkan dengan Tari Reog dan diakhiri oleh permainan alat musik Angklung. 
Dipenghujung acara Komandan Sektor Timur mengatakan, Indonesia memang kaya akan kebudayaan dalam negerinya. “Apa yang disajikan oleh Satgas Indobatt, kita semua sangat terhibur dan kagum akan apa yang dimainkan oleh Prajurit TNI dan seolah-olah kita semua berada di Indonesia”, ujarnya. (Badarudin Bakri Badar/KW)
Menurut saya, kegiatan acara seperti ini sangat mendukung persahabatan Negara Indonesia dengan  hubungan Negara lain dan mengenalkan kebudayaan Indonesia ke mancanegara seperti halnya mengenalkan tarian adat, alat musik atau kebudayaan khas Indonesia, agar tidak diklaim lagi oleh Negara lain. Dan juga sudah semestinya kita semua yang ada dinegara ini untuk menjaga kebudayaan yang kita miliki,  menurut saya antara lain adalah para pemuda-pemuda yang ada dinegara ini harus menjaga kebudayaan yang ada dinegara ini, baik itu dengan cara kita mempelajari budaya-budaya yang ada di Negara ini, baik itu kesenian nya atau pun kita melestarikan kebudayaan yang ada dinegara ini dengan cara menjaga kebudayaan yang kita miliki. 


http://news.liputan6.com/read/544926/tni-pamerkan-kebudayaan-indonesia-di-lebanon

Selasa, 04 Desember 2012

Kemacetan Jakarta


        Jakarta adalah daerah khusus ibukota Indonesia serta dikenal sebagai kota yang super macet.Hingga saat ini kita tahu Jakarta selalu mengalami kemacetan karena akan padatnya penduduk serta padatnya kendaraan yang ada. Sebagai contoh dari Thamrin ke Otista yang jaraknya hanya sekitar 13 km perjalanan dengan kendaraan mobil bisa mencapai 2 jam lebih. Bahkan kalau hujan bisa 3 jam lebih. Kalau kita bekerja di Jakarta dan rumah jauh di pinggiran, kita bisa menghabiskan waktu 3-5 jam lebih di jalan. Setiap hari kita mendengar bagaimana ibukota Jakarta dilanda kemacetan yang luar biasa parah.Bayangkan saja bagaimana jarak yang hanya kurang dari 10 km bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Disetiap sudut Kota Jakarta, yang kita temui hanyalah keluhan demi keluhan atas kemacetan yang luar biasa itu.Tidak terhitung kerugian yang harus dibayar oleh Kota Jakarta. Biaya bahan bakar yang terbuang ke udara secara percuma. Biaya waktu yang terbuang sia-sia di tengah perjalanan. Biaya kesehatan akibat polusi. Serta biaya-biaya lainnya yang tidak bisa diperkirakan, seperti penambahan personil, sampai dengan kecelakaan yang bisa saja terjadi.Itu Kota Jakarta. Sayangnya, persoalan serupa hampir dapat dipastikan akan segera dialami oleh kota-kota besar di seluruh Indonesia. Kota Medan saja, yang masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan Kota Jakarta, sudah mulai menjurus kepada kemacetan tiada henti yang terjadi di mana-mana.Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu persoalan yang diabaikan adalah pada penataan kota secara dini. Kota besar harus ditata sedemikian rupa sehingga mampu menampung jumlah kendaraan yang ada, plus penambahan-penambahannya. Maka bagaimanapun, pemerintah daerah tidak boleh terlena dan membiarkan keadaan ini berjalan apa adanya.Kota Jakarta memang kelihatannya sudah terlambat untuk ditata dalam jangka pendek. Akibat penambahan ruas jalur Busway saja, kemacetan sudah sangat mengganggu.

Ada beberapa faktor penyebab macet di Jakarta:
1. Waktu lampu hijau yang begitu cepat. Sering baru 4-5 mobil yang berjalan lampu sudah kembali merah. Padahal antrian bisa mencapai 1 km atau sekitar 200 mobil.Untuk hal ini mungkin solusinya adalah memperpanjang waktu lampu hijau di tiap tempat jadi 1,5 atau 2 menit. Contoh kemacetan ini adalah di lampu merah pertigaan jalan Otista III  Otista Raya.
2. Banyaknya kendaraan angkutan (terutama mikrolet dan metromini) yang berhenti menunggu penumpang. dan ini perlu kesiagaan polantas untuk mengatur mereka. Contohnya adalah di dekat terminal Kampung Melayu dsb.
3. Pedagang kaki lima yang meluber ke jalan dan ini perlu ditertibkan
4. Pintu masuk jalan Tol. Antrian kendaraan untuk membayar jalan tol sering membuat macet. Contohnya di pintu masuk Tol Tebet Barat 2 yang membuat macet sampai ke jalan layang ke arah Mampang. Harusnya pada jam macet jalan tol digratiskan saja sehingga tidak ada antrian bayaran yang membuat macet.
5. Jalur busway yang memakan jalur umum. Busway memang mempercepat bus busway. Namun memacetkan kendaraan lain di jalur non busway karena memakan satu jalurumum. Di jalan yang hanya ada 2 jalur, maka Busway memakan separuh jalur. Tak heran di daerah yang ada jalur Busway seperti Thamrin-Sudirman dan sekarang jalan Otista jadi sangat macet.
6. Pada titik macet seperti perempatan Pancoran dan Kuningan, harus diperlebar 1 jalur sepanjang 500 meter. Kemudian beri jalan layang minimal 2 jalur sehingga untuk yang lurus terhindar dari kemacetan lampu merah. Tahun 2008 kemacetan menyebabkan kerugian sebesar Rp 28 trilyun. Jadi biaya untuk mengurangi kemacetan lebih kecil dibanding dampaknya. Masalah kemacetan dan transportasi di Ibu Kota Jakarta sudah memasuki fase kritis.Hampir setiap hari antrean panjang kendaraan pribadi,angkutan umum hingga sepeda motor terjadi di setiap ruas jalan. Dampaknya jelas merembet ke berbagai sektor kehidupan dan merugikan semua pihak. Jika problem krusial ini tidak segera diatasi, maka kemacetan total dalam beberapa tahun mendatang sepertinya tak dapat dihindari kemacetan di Jakarta disebabkan multifaktor. Antara lain waktu lampu hijau yang begitu cepat, traffic light yang tidak berfungsi (mali), angkutan umum yang suka berhenti sembarangan, dan pedagang kaki lima yang meluber kejalan. Pembangunan pusat-pusat perdagangan baru yang dipaksakan di wilayah-wilayah yang sudah padat lalu lintasnya, juga ikut memberikan kontribusi bagi kemacetan. Selain itu. kelambanan arus  alu lintas tak lepas dart fenomena maraknya masyarakat yang sangat mudah membeli kendaraan pribadi. Padahal, saat ini kapasitas Jaringan jalan danjumlah kendaraan tidak sepadan. Pertumbuhan kendaraan di Jakarta setiap tahun mencapai sembilan hingga 11 persen, sementara ekspansi jalan kurang dari 0.01 persen (Data Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta. 2009).Kota Jakarta yang memonopoli semua kegiatan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya, sebenarnya turut pula menciptakan kondisi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong mengadu nasib di Jakarta. Akhirnya terjadi kepadatan penduduk. Parahnya lagi, di antara mereka ada yang berani tinggal di-lahan atau kawasan yang tidak diperuntukkan untuk pemukiman, seperti di bawah Jembatan layang atau dipinggiran kali. Sudah saatnya pemerintah memeriksa titik-titik kemacetan dan memperlebar jalur di sana.

OPINI :
Menurut saya pemerintah seharusnya pemerintah mengurangi batas pemakaian kendaraan agar tidak banyak kendaraan yang lalu lalang yang menyebabkan kemacetan, .Menaikkan tarif parkir di pinggir-pinggir jalan di Jakarta dan melarang parkir seluruh kendaraan di badan jalan, Menertibkan (sterilisasi jalan) parkir liar yang ada di ruas-ruas jalan di Jakarta, Melarang seluruh pedagang kaki lima, untuk berjualan di trotoar atau di pinggir jalan-jalan utama di Jakarta, Melarang angkutan umum berhenti (ngetem) di pinggir jalan untuk menaikkan atau menurunkan. penumpang, kecuali memang tersedia tempat yang diperuntukan untuk hal tersebut.

Sumber :
http://novijaya12.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_13.pdf




































































                                                                                          













































































































































































































































































































































































































Minggu, 25 November 2012

Banjir Kepung Jakarta


Sejak beberapa hari terakhir ancaman banjir terasa mengintai Jakarta. Namun, kemarin malam, banjir sesungguhnya benar-benar datang dan mengepung ibu kota Jakarta. Dua dari 13 sungai yang melewati Jakarta meluap airnya. Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan tidak mampu lagi menampung debit air yang masuk akibat hujan lebat yang melanda Puncak, Bogor, dan Jakarta. Banyak warga yang menjadi korban meluapnya Sungai Ciliwung dan Sungai Pesanggrahan. Ketinggian air yang berkisar antara 30 cm hingga 220 cm langsung masuk ke rumah-rumah warga, membuat banyak warga harus meninggalkan rumah mereka.
Hal yang perlu kita waspadai bersama adalah musim hujan ini baru mulai. Setidaknya masih ada dua bulan ke depan yang intensitasnya akan semakin tinggi, sehingga potensi banjir dan juga longsor semakin membahayakan. Kita semua harus bersiap menghadapi kondisi yang terburuk. Paling utama yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah keselamatan jiwa dan kesehatan masyarakat. Kita harus bisa mencegah jangan sampai masyarakat menjadi lebih menderita. Yang paling ditakuti dari banjir adalah arus yang deras. Apalagi ketika saluran air yang ada tidak tertutup dengan baik. Warga yang tidak berhati-hati bisa terperosok masuk ke dalam lubang saluran air dan hanyut terbawa derasnya aliran air. Sebelum banjir besar yang kemarin terjadi, kita menemukan dua warga tewas karena terbawa arus deras banjir. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita semua, bagaimana kita menjadi keselamatan keluarga kita untuk tidak terbawa hanyut arus banjir. Yang kedua harus kita perhatikan dari bencana banjir adalah kesehatan masyarakat. Genangan air yang terjadi bisa menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit. Di tengah keterbatasan kondisi warga, maka daya tahan tubuh cenderung rendah.
Dinas kesehatan dan Dinas Sosial harus lebih aktif membantu masyarakat, terutama yang tinggal di tempat penampungan. Sanitasi dan dapur umum harus dipersiapkan lebih baik, agar masyarakat tidak semakin terbebani. Perhatian ini tidak hanya berlaku untuk Jakarta, tetapi seluruh daerah di Indonesia. Ancaman banjir berlaku di seluruh Indonesia. Beberapa daerah dilaporkan menghadapi ancaman banjir yang tidak kalah seperti apa yang dialami warga di Jakarta. Khusus untuk warga di daerah, yang harus menjadi perhatian adalah ancaman longsor. Dengan curah hujan yang tinggi, sementara vegetasi alam yang semakin terbatas, maka anacaman longsor menjadi lebih meningkat. Kita lihat longsor yang terjadi di Bojonggede, Bogor, sehingga menyebabkan putusnya rel kereta api. Sudah dua hari ini perjalanan kereta api Bogor-Jakarta tidak bisa berjalan, karena terputusnya rel kereta api di Bojonggede. PT Kereta Api Indonesia membutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan kondisi rel yang ada.
Secara umum, penyebab banjir di DKI Jakarta terjadi akibat dua faktor utama, yakni; faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam karena lebih dari 40% kawasan di DKI Jakarta berada dibawah permukaan air ketika laut pasang. Kondisi kian diperparah dengan kecilnya kapasitas tampung sungai saat ini, dibanding limpasan (debit) air yang masuk ke Jakarta. Kapasitas sungai dan saluran makro ini disebabkan karena konversi badan air untuk perumahan, sedimentasi dan pembuangan sampah secara sembarangan menjadi problematika yang mengayuti warga Ibukota. Karena itu integrasi Tata Ruang dan Tata Air sangat dibutuhkan. Melalui Perencanaan Tata Ruang Komprehensif berbasis ekologis menjadi harapan terbebasnya Jakarta dari banjir. Pemerintah, Swasta dan Masyarakat pun pantas mengambil peran.

OPINI :
Penyebab banjir di DKI Jakarta memang terjadi akibat 2 faktor tersebut yaitu factor alam dan factor manusia. Tetapi akibat factor manusia sangat mempengaruhi sekali banjir di wilayah Jakarta. Sebaiknya  pemerintah bekerja sama dengan masyarakat dengan membuang sampah tidak sembarangan, bagi yang membuang sembarangan dikenakan denda, memperbanyak ruang buka hijau (taman), mengurangi pembangunan proyek-proyek, dan menanam pohon agar bisa menampung resapan air.

Sumber:

Sabtu, 17 November 2012

AIDS Penyakit yang Mematikan


Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara  atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darahair manicairan vaginacairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darahjarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Di kota Denpasar dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual. Mereka terdiri atas putra 27% dan putri 18%. Data statistik nasional mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 75% terjangkit hilangnya kekebalan daya tubuh pada usia remaja. Semakin memprihatinkan penderita HIV/AIDS memberikan gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan kesehatan reproduksi yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu mengembangan model pusat informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi remaja melalui pendidik (konselor) sebaya menjadi sangat penting.

Kehilangan kekebalan tubuh, ibarat sebuah kerajaan tanpa benteng atau komputer tanpa antivirus/firewall. Silahkan bayangkan sendiri, apa jadinya tubuh tanpa sistem kekebalan, tanpa bermaksud menakut-nakuti apalagi mendahului kehendak Tuhan, secara normal orang yg sudah terinveksi virus HIV/AIDS, sudah bisa diprediksi berama lama lagi dia akan hidup. Inilah yang membuat kebanyakan para penderita aids kehilangan semangat hidup. Apalagi kalau orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang terdekatnya (keluarga) ikut mengucilkan dirinya. Itu akan membuat si penderita aids semakin tertekan, hingga tak jarang yang memutuskan untuk segera mengakhiri hidup, dengan cara bunuh diri.

Opini :
Menurut saya aids memang penyakit mematikan yang tidak ada obat atau penanggulanganya tetapi aids masih bisa kita hindari dengan tidak melakukan perbuataan seperti diatas dan membentengi diri kita dengan iman dan ketakwaan. Serta jangan mengucilkan orang-orang yang terkena penyakit aids lebih baik kita memberi dukungan dan semangat agar mereka tetap semangat di sisa akhiir hidupnya.

Senin, 05 November 2012

Nasib Anak Jalanan


Siapa Yang Peduli Nasibmu, Dik?

Satu dua bocah kecil menyenandungkan beberapa bait lagu di antara roda-roda yang bergerak melambat menyambut nyala merah pada lampu lalu lintas. Tak utuh memang lagu yang dinyanyikan, suara sang pendendang pun tak sebagus kontestan idola cilik di TV. Sudah barang tentu mereka tidak diiringi alunan dari orkestra ternama, cukup suara seadanya dengan gitar mainan, atau sekedar kecrekan dari kaleng bekas sebagai pengiringnya. Gelandangan, anak jalanan, pengemis cilik, pengamen kecil, atau apapun kita menyebutnya memang seringkali terlihat memprihatinkan. Tapi semenjak jumlahnya yang tak lagi bisa dibilang sedikit, keadaan ini justru sudah dianggap biasa. Ah, kemana para pemimpin yang dulunya menjanjikan pendidikan yang layak bagi mereka? Bukankah anak-anak kecil bagi negeri seberang adalah aset yang begitu dijaga? Entah, Pemerintah bisa dibilang lepas tangan atau tidak. Para petinggi gedung DPR mungkin berkelit telah memberikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu si miskin, memberikan beasiswa bagi yang kurang mampu, menggelintirkan banyak dana untuk membangun sekolah ataupun menaikkan persentase anggaran pendidikan dalam APBN negara. Jika saja semuanya benar, lantas siapa bocah-bocah kecil itu? Tidak seharusnya mereka ada dengan kondisi seperti yang sekarang ini, jika ‘kereta’ berjalan pada relnya.

Miris rasanya melihat gedung DPR yang begitu megah itu masih meminta renovasi, sementara ratusan sekolah tidak lagi menyerupai bangunan. Ruang ber-AC, kursi nyaman, dan berbagai fasilitas mewah lainnya sungguh tak layak disandingkan dengan deretan kursi dan bangku yang dipakai berdesakan, kemudian bergantian. Sungguh tak memadai, jika dibandingkan dengan bilik kecil yang panas menyengat ketika siang hari, dan tergenang air jika hujan menyapa. Sayang, bilik inilah yang masih kita sebut sekolah. Fenomena anak jalanan mungkin hanya bisa ditemui di kota besar. Namun bukan berarti nelangsa hanya milik si kecil dari kota. Jauh di belahan Indonesia lainnya, begitu banyak anak yang bahkan tak mengenal abjad. Jangankan fungsi algoritma, mengenal angka pun tidak. Bukan, bukan karena mereka bodoh. Tapi kesempatan tak berpihak pada anak-anak malang ini. Entah bagaimana alurnya, tangan Pemerintah tak mampu merangkul mereka. Kemana dana yang –katanya- mengalir deras untuk pendidikan itu? Ah, tak usah. Tak usah ditanya kawan. Mereka, anak jalanan, tidak membutuhkan jawaban itu. Mereka, anak-anak terpelosok, terlalu lelah menunggu uluran tangan kita yang tak kunjung sampai.

Sementara masyarakat dan pemerintah sibuk saling menyalahkan, lihatlah mereka, anak-anak kecil yang hanya mengenal siang dalam malam. Sehari yang mereka punya adalah untuk mencari uang. Lapangan bermain anak-anak tak berdosa ini adalah jalanan dengan kendaraan super cepat yang siap merenggut nyawa mereka kapanpun. Jika kita masih ingin menyelematkan negeri ini, mari kita bantu Pemerintah merangkul mereka. Saya rasa pemberian upah seratus dua ratus perak sebagai imbalan setelah mereka menyanyi, atau sekedar rasa kasihan, bukanlah jalan keluar yang baik. Bukannya pelit, tapi dikhawatirkan hal-hal semacam itu bukannya mengembalikan mereka ke sekolah, tapi justru membuat jumlah anak jalanan semakin banyak, karena tergiur receh yang mengalir dari masyarakat. Jalan yang bisa kita tempuh untuk membantu mereka adalah dengan pendirian ataupun pengoptimuman wisma untuk anak jalanan. Kita dapat menyalurkan dana ke tempat ini yang nantinya difungsikan untuk membiayai pendidikan mereka. Pendidikan disini baik berupa pendidikan seperti layaknya di sekolah, juga diimbangi dengan pelatihan soft skill, leadership, dan lainnya yang berguna untuk anak-anak ini. Pemerintah, melalui aparatnya hendaknya konsekuen setiap waktu melakukan razia terhadap anak-anak yang memadati jalanan untuk mengamen, ataupun sekedar meminta-minta. Bukan untuk diseret ke penjara, melainkan dirumahkan di wisma yang telah tersedia untuk mereka. Dengan bantuan dari masyarakat disertai dengan aliran dana pendidikan dari Pemerintah, wisma tersebut sudah seharusnya memiliki akses dengan sekolah-sekolah yang nantinya akan menjadi tempat anak-anak ini belajar. Tempat mereka bukan di jalanan, tapi di sekolah seperti saat kita seumuran mereka. Bocah kecil itu berhak mengenyam pendidikan seperti halnya kita. Di wisma, mereka harus mendapat pendidikan dan pelayanan yang memadai, sesuai dengan janji pemerintah yang menjamin pendidikan bagi seluruh warganya. Mengenai ‘pekerjaan’ yang ditinggalkannya, anak-anak ini tak perlu khawatir. Mereka masih bisa mencari uang melalui pendidikan keterampilan yang juga seharusnya diberikan di Wisma. Hasil kerajinan mereka dapat dipasarkan dengan nilai jual cukup tinggi jika tenaga pengajar mampu mengasah kreatifitas dari anak-anak ini. Hasilnya tentu tidak sedikit. Selain dapat menjadi uang jajan untuk mereka ataupun untuk membantu pendapatan orang tuanya, aliran dana ini tentu juga turut berkontribusi dalam menjaga keseimbangan perekonomian Negara.

Pemerintah bisa, masyarakat bisa, kita semua bisa melakukan penyelamatan terhadap mereka, anak jalanan. Memang, perlu komitmen dari aparat pemerintah sendiri untuk merangkul anak-anak ini. Satu hal yang harus dihindari adalah ; bosan. Jangan pernah bosan mengajak mereka. Mungkin memang bukan hal mudah secara tiba-tiba kita memasukkan mereka ke wisma. Tentu ada aspek psikologis bagi anak-anak ini ketika ia digelandang aparat. Pendekatan psikologis bagi anak-anak dapat difungsikan dalam mengatasi masalah ini, misalnya dengan tidak menugaskan aparat dengan pakaian dan perawakan menakutkan bagi mereka. Banyak hal yang bisa kita lakukan, kawan.. Sebagai mahasiswa, mungkin tak banyak dana yang bisa kita salurkan, tapi bukankah kita punya suatu hal yang sangat mereka butuhkan? Ilmu. Kita bisa berbagi ilmu dengan adik-adik kita bagaimanapun caranya. Bisa sebagai pengajar tetap, pengajar tidak tetap, atau apapun yang penting kita bantu mereka mengenal dunia dan pengetahuan yang sudah kita enyam hingga kini. Saatnya menunjukkan bahwa kita bukanlah mahasiswa yang hanya bisa mengkritisi jalannya Pemerintahan dengan turun ke jalan, tapi juga bisa memberi solusi, atau bahkan menjadi solusi bagi mereka.

Opini :
Salah satu tujuan bangsa Indonesia didalam UUD 19945 telah dijelaskan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, tetapi menurut saya sekarang pemerintah masih kurang memperhatikan pendidikan walaupun sudah diadakan program wajib belajar dan dana BOS tetapi semua itu belum cukup karena masih banyak anak yang di terlantarkan oleh pemerintah seperti contoh diatas, ,sekarang pemerintah menghambur-hamburkan uang Negara untuk hal yang kurang bermanfaat.  Ditambahkan, saat ini memang belum ada pendidikan khusus bagi anak-anak jalanan. Sesungguhnya bentuk sekolah atau pendidikan yang pas untuk anak jalanan tidak harus sekolah formal atau memberikan fasilitas pendidikan khusus lainnya. Model pendidikan bagi anak jalanan dapat berupa sanggar atau yayasan social yang menampung anak jalanan agar mereka memperoleh pendidikan.

Sumber :